Cerita Mesum Dengan Pacar Temenku

Dengan Pacar Temenku Di kos aku punya temen yang seumuran dengan aku, orangnya cantik dan sexy banget. Kalo dia pake pakean yang ketat menempel dibadannya, pasti para lelaki yang melihatnya akan menelan ludah dan jadi ngeres, hampir bisa dipastikan bahwa dipikiran lelaki itu adalah bagaimana bisa menggeluti temenku itu di ranjang. Temenku punya ttm, umurnya jauh diatas umur temenku. Orangnya si keren, atletis lagi badannya, tinggi gede. Ketika aku tanya kenapa ttman gak dijadiin cowoknya, temenku bilang dia mo jalani aja dulu for fun, kalo nanti hubungan mreka berkembang baru mikir kedepannya seperti apa. Temenku juga suka jalan ma om2, bahkan ada om2 yang dikenalin juga ama aku.
Cerita Mesum Dengan Pacar Temenku
Tapi karena aku badannya kecil, gak banyak tu om yang ngajakin aku cek in. Sebenarnya biar kecil badanku tapi aku punya tonjolan2 yang proporsional dengan ukuran badanku, cukup menggoda juga untuk diliat lelaki. Satu weekend, temenku itu jalan lagi ma om2, padahal dia dah janjian ma ttm nya yang baru pulang dari australia. Dia bilang ke aku supaya bilang dia lagi nengokin neneknya yang sakit keras sehingga harus pulang ke kampungnya. tapi setau aku neneknya dah lama almarhum. Tapi ya sebagai temennya ya aku iyakan saja, dia nitip kunci kamarnya ke aku karena ttm nya biasanya kalo dateng suka langsung masuk kamarnya kalo dia belum pulang.

Cerita Mesum Dengan Pacar Temenku Menjelang sore, kamarku ada yang ngetok, aku baru tidur sehingga masi pake seragam tidur, t-shirt dan celana pendek, kalo tidur aku memang gak pake bra sehingga ketika itu pentil imutku berbayang di t-shirt tipisku. Setengah ngantuk aku membuka pintu kamarku. Ternyata si abang, ttm temenku itu. Dia membelalak juga ngeliat pentilku yang berbayang di t shirt tipisku. “Nyari Ayu (nama temenku) ya bang, dia pulang kampung, neneknya sakit keras, nih kunci kamarnya”. “Iya dia juga nempel surat dipintu kamarnya, katanya suruh minta kunci kamarnya ke kamu. Sori ya aku ngeganggu kamu lagi mimpi”. “Gak kok, mang dah waktunya bangun”. “Mangnya mo kemana”. “Gak kemana2, kalo tidur siangnya kelamaan, ntar malemnya gak bisa tidur aku”. “Gak apa gak bisa tidur juga, kan ada aku”, jawabnya sembari ketawa. “Maksudnya”, aku pura2 gak ngerti arah jawabannya. “Iya, kalo gak bisa tidur nanti malem, aku mau kok nemenin kamu”, dia tertawa lagi. “Ya udah aku mandi dulu ya, nanti aku temeni deh”. “Oke”. Aku melanjutkan tidurku sebentar sampe ngantukku bener2 ilang, baru aku mandi. Aku pake baju rumah ja, kan gak da rencana mo kemana2, sama kaya seragam tidurku, cuma t-shirtnya lebih tebel aja, aku sih tetep gak pake bra. Aku ngetok pintu kamar temenku, si abang bukain pintunya, “Wah dah cantik nih, mo kemana”. “Mo nemeni abang ja, mau ditemenin gak”. “Mau banget, ditemeni ma yang cantik masa nolak”. “Mangnya aku cantik bang, cantikkan juga Ayu, lebih sexy lagi bodinya”. “Kamu juga sexy kok, proporsional banget semuanya”. “Semua paan bang”. “Semua yang nonjol dibadan kamu, proporsional ama ukuran badan, sexy kan itu namanya”. Aku seneng aja dia muji2 gitu, prempuan mana si yang sebenarnya gak suka digombalin gitu. “Abang baru pulang dari australia, bawa oleh2 dong buat Ayu”. “ada dikit, buat kamu juga ada”. “Kok bisanya”. “Ya bisalah, aku kan merhatiin kamu juga dah lama, gak tau kan kalo aku perhatiin”. “Masak sih”. “Iya karena dimataku kamu gak kalah sexynya ama Ayu”. Dia ngasi aku gantungan kunci dengan bandul koala. “Makasi ya bang, abang lagi nonton ya, film paan si”, tanyaku karena kulihat tvnya nyala hanya dengan warna biru pertanda ada film yang di pause. “Film thailand, Ayu kan minta dibeliin film thailand”. “Kok belinya di ausie”. “Iya di ausie kan bebas jual film dari mana aja, mo ikutan liat gak”. Aku duduk aja di karpet, memang kamar temenku itu gak da perabotannya, duduk di karpet, tv dan audiovisual equipmentnya yang ditaruh di meja . Tidurpun gelar kasur dilantai, jadi lega ruangannya kalo gak ada perabotan yang besar2. Ada ac dan kamar mandi didalem. Aku juga niru gitu dikamarku. Aku duduk nyender di tembok disebelahnya, dia mijit remotenya untuk meneruskan filmnya, rupanya film bokep, cewek thailand maen sama bule. “Cewek thailand kaya orang kita ya bang, gede banget ya punya bule”. “Iya, kamu perna ngerasain yang gede gitu In”. “Blon bang, yang kecilan pernah”. “enak tu In kalo kemasukan yang gede gitu, brasa banget gesekannya”. “Yang enak perempuannya apa lelakinya bang”. “Ya dua2nya lah, yang lelaki juga pasti nikmat banget, palagi kalo mem3k perempuannya jadi peret banget kemasukan yang gede gitu, kan berasa kedutannya, kaya diremes2 gitu”. “Kok abang tau, punya abang segede gitu ya”. “Mo liat”. Aku cuma senyum2 aja, pembicaraan mulai ngarah ke ngesex.

Lama2 aku hanyut juga ngeliat serunya tu film ditambah serenade wajib film bokep – ah uh no yess dari ceweknya. Dia tau kalo aku dah mulai hanyut, “Gerah ya In, kalo gerah buka ja t shirtnya”. “Maunya”, jawabku sembari senyum. Perlahan dia usap rambutku dan mengecup keningku Aku mendongakkan kepala untuk memandangnya. Beberapa saat kami saling berpandangan, beberapa saat kemudian wajah kami semakin mendekat, aku menutup mataku dan pada akhirnya dia mengecup lembut bibirku. bibirnya memagut bibirku. dikulum sambil menjulurkan lidahnya untuk mengait-ngait lidahku. Sejenak, dia melepaskan pagutan bibirnya. Ditatapnya wajahku sambil menggerakkan jari tangannya untuk menyibak beberapa helai rambut yang terjatuh di keningku. Dan ketika kembali mengulang ciumannya, ujung lidahku menyusup di antara bibirnya. Segera dipagutnya lidahku. Dihisapnya dengan lembut agar menyusup lebih dalam
ke rongga mulutnya. Kedua telapak tangannya turun ke bahuku. Setelah mengusapkan jari-jarinya berulang kali, telapak tangannya meluncur ke punggungku. Lalu dibelai-belainya punggungku dengan ujung-ujung jarinya sambil mempermainkan lidahku dengan ujung lidahnya. Tak lama kemudian, aku melingkari lehernya dengan kedua tanganku. Semakin lama rangkulanku semakin ketat. Kemudian aku menggerak-gerakan lidahku yang lagi dikulumnya, membelit dan balas mengisap. Dia melepaskan pagutan bibirnya. Sejenak kami saling menatap. Lalu dikecupnya dahiku dengan mesra. Kemudian bibirnya berpindah mengecup bahuku. Mengecup berulang kali. Dari bahu bibirnya merayap ke leherku. Sesekali lidahnya dijulurkan untuk menjilat. Aku menggelinjang karena geli. Tangan kirinya menyusup ke dalam t-shirt meremas pelan tokedku, sementara tangan kanannya menyusup ke cdku bagian belakang melalui celpenku dan mengusap, meremas lembut belahan pantatku. Dia kembali menciumi aku dengan buas. Bibirku di lumat habis. Lidahnya meliuk-liuk di dalam mulutku dan kusambut dengan kelincahan lidahku. Lalu mulutnya kembali turun ke arah leherku, dia menjilati leherku. Aku memejamkan mata, aku sangat menikmati rangsangannya. Tanganku terus mengusap-usap kontolnya yang masih rapi berada di dalam sarangnya. Terasa besar dan keras.

Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Perlahan dia raih pinggangku dan mendudukkannya dalam pangkuannya. Dia mengusap lembut rambutku, pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan. Cukup lama kami berciuman. Akhirnya dia mulai menurunkan bibirnya ke arah leherku. “Ugh…”. lenguhku. Aku makin mendongakkan kepalaku, dia menjelajahi milimeter demi milimeter leherku, “Bang… ookkhh…”, lenguhku saat dia melepaskan t-shirtku. Aku mengangkat tanganku keatas untuk mempermudah lepasnya t-shirt itu. Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari tokedku. “Dikasur ja yuk”, dengan sekali gerakan dia dapat menggendongku. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri lagi dengan tubuhku dalam gendongannya. Aku mulai meremasi rambutnya. Perlahan-lahan dia merebahkan aku dikasur yang letaknya gak jauh dari karpet itu. Dvd player dan tv sudah dimatikannya. tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Aku melepaskan pakaian yang menempel dibadannya. Belon terlepas semuanya aku sudah melenguh lagi karena dia mulai mengulum tokedku. Kali ini lenguhanku lebih keras dari sebelumnya. Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar pentilku, berkali-kali membuat aku menggeliat. Dia meneruskan cumbuannya ke arah perutku. Kini dia mengulum puserku sehingga kembali aku melenguh keenakan. Perlahan dia mulai menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuhku, menurunkan centi demi centi cdku menyusuri kedua kakiku hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, dia mulai menurunkan jilatan ke arah selangkanganku, “Bang… diapain… uugghh…”
Dengan gemas, dibenamkannya hidungnya persis di antara bibir memekku. Sesekali diselingi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bang..! Aauuw!” pekikku sambil menggelinjangkan pinggulku. Tapi beberapa detik kemudian, aku merasakan lidahnya menjilat-jilat bagian luar memekku, aku merintih-rintih. Aku merasa nikmat setiap kali lidahnya menjilat dari bawah ke atas. Jilatan itu membuat aku menjadi liar, aku menghentak-hentakkan kakiku dan menggeliatkan pinggulku berulang kali. Memekku semakin basah. Karena tak tahan lagi menerima kenikmatan yang mendera memekku, aku menjambak rambutnya dengan satu tangan, tanganku satunya menekan bagian belakang kepalanya. “Bang, aarrgghh! aku dah mo nyampe”. Dia menghentikan jilatan lidahnya. Ia menengadah dan memandang wajahku, aku lagi terpejam merasakan nikmatnya jilatannya. “Cepet banget In”, tanyanya sambil menyisipkan jari telunjuk ke dalam memekku. Dia menenggelamkan dan menggosok-gosokkan hidungnya ke belahan bibir memekku. Nafasku terengah-engah. Mulutku setengah terbuka megap-megap. Aku menggeliatkan pinggulnya untuk menahan cairan yang terasa ingin mengalir keluar dari memekku. kepalanya ditekan ke memekku dan menghisap2nya sambil meremas kedua bongkahan pantatku. Dan Aku semakin keenakan, membuat lendir semakin banyak mengalir ke lubang memekku. Aku mengangkat kakiku yang terjuntai di atas kasur dan melilitkan betisku di lehernya. Aku tak ingin kepalanya lepas dari pangkal pahaku. Aku mempererat tekanan betisku di lehernya. Aku juga menjambak rambut dan menekan bagian belakang kepalanya lebih keras, sehingga mulutnya makin terbenam di dalam memekku. Dia telah merasakan bibir dan dinding memekku berdenyut-denyut. DIa pun dapat merasakan hisapan lembut di lidahnya, seolah memekku ingin menarik lidahnya lebih dalam. Sejenak, dia mengeluarkan lidahnya untuk menjilat dan menghisap bibir memekku. Dikulumnya berulang kali. Dijilatinya kembali dinding dan bibir memekku. “Baaang, aku nggak tahan lagi”. Dia semakin bersemangat menjilat dan menghisap-hisap. membuat pinggulku terhentak-hentak. Walaupun kepalanya terperangkap dalam jepitan paha dan betisku, tetapi dia dapat merasakan setiap kali pinggulku terangkat dan terhempas. Berulang kali hal itu terjadi. Terangkat dan terhempas kembali. Sesekali pinggulku menggeliat pertanda aku dah bener2 mo nyampe. Dan ketika dia merasakan rambutnya kujambak semakin keras diiringi dengan pinggulku yang terangkat menghantam wajahnya, dia segera mengulum itilku. Sesekali dihisapnya disertai tarikan lembut hingga itilku hampir terlepas dari bibirnya. Ketika merasakan pinggulku agak berputar, dijepitnya itilku dengan kedua bibirnya agar tak lepas dari hisapannya. “Bang, aku nyampeee. Aargh.. Aarrgghh..!” Dia menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Bahkan ditekannya lidah dan kedua bibirnya agar terperangkap dalam jepitan bibir memekku. Setelah mencicipi rasa di ujung lidahnya, dihisapnya cairan memekku sekeras-kerasnya. Direguknya lendir itu dengan lahap. Lalu dibenamkannya kembali hidungnya di antara celah bibir memekku yang berdenyut-denyut itu. Dan ketika merasakan pinggulku terhempas kembali ke atas kasur, dia menjilati memekku. Setetes lendir pun tak dia sisakan! Bahkan lendir yang membasahi jembutku pun dijilatinya. Jembutku jadi merunduk rapi seperti baru selesai disisir! “Bang., ooh, aarrgghh.., Enak banget”.

Dia memandang wajahku. Mataku terpejam sambil menggigiti bibirku sendiri, tanganku yang mencengkram seprei di tepian kasur dengan kencang, serta nafasku yang tidak beraturan. Dia membiarkan aku meregang dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja kudapat.

“Aku ke kamar mandi dulu ya bang”, dia mengangguk. Ketika aku sedang membilas tubuhku dibawah shower air hangat dia masuk ke kamar mandi. “Bang, tolong matikan AC kamar. Biar nggak kedinginan kalau aku keluar nanti”,.AC tidak dia matikan tapi aku setel menjadi 25 derajad. Biar lebih hangat. Lalu dia kembali melangkah ke kamar mandi lagi. “Jangan bengong, bang, mandi sekalian aja…”, kataku waktu dia bengong. Dia segera melepas sisa pakaiannya yang belon aku lepasin waktu dia ngemut tokedku. Sesaat ketika badannya basah tersiram air, aku menyabuni seluruh tubuhnya dengan pelan dan lembut. Mula-mula tangannya, lalu dada dan perut. Aku minta dia berbalik badan dan kemudian punggungnya mendapat giliran. Setelah bagian atas tubuhku rata terkena sabun, aku berjongkok. Kusabuni kakinya, lalu naik ke paha. Aku memegang kontolnya dan mengelus batangnya pelan-pelan, terasa sangat licin dengan sabun. Setelah bersih, tiba gilirannya. Dia segera mengambil sabun dari tanganku. Mula-mula dia mengusap kedua tanganku. Lalu beralih ke perutku. Kemudian tangannya merayap naik, kedua tokedku disabuni dengan lembut. Tangan kirinya membelai lembut toked kananku, sementara tangan kanannya mengusap-usap toked kiri. Dia lakukan berulang-ulang, aku memejamkan mata sambil mendesah, menikmati sensasi. Tubuhnya merapat ke tubuhku, dan dengan posisi seperti memeluk, tangannya menyabuni punggung dan pantatku. Ketika tangannya sampai di belahan pantatku, sengaja dengan lembut dia sedikit menusukkan jemarinya ke lubang anusku. “Emmhh… baang,…”, aku mendengus perlahan. Setelah bagian atas tubuhku rata dengan sabun, dia lalu berjongkok. Dia mulai mengusap kaki dan betisku. Pelan.., perlahan sekali. Lalu tangannya naik ke pahaku. Aku agak merenggangkan kakiku, agar tangannya bisa menyusup ke celah pahaku. Lalu tangannya naik lagi, sampai akhirnya dia bisa menyabuni jembutku. Agak lama dia mengusap-usap sekitar selangkanganku dengan lembut, hingga bibir memekku merekah. “Sudah.. bang”, lenguhku. Dia berdiri dan memeluk tubuhku. Dia menciumku sampai aku kembali terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tangannya mengusap pantatku, paha dan kedua tokedku. Aku juga terus menggerayangi tubuhnya, punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke kontolnya. Kukocok-kocok kontolnya. Dia merasa nikmat. Aku mundur dan bersandar di dinding. Kaki kurenggangkan, mataku terpejam. Aku lalu memegang kontolnya. Sabun makin mencair tapi masih tetap licin.
Aku baru membuka mataku ketika kurasakan sebuah benda menempel lembut pada bibir memekku. Aku memandang lembut ke arah wajahnya yang tepat berada di depan wajahku. “Aku masukin ya” bisiknya sambil mengecup keningku. Aku hanya mengedipkan kedua mataku sekali, sambil tetap memandangnya.

Perlahan-lahan dia tekan kontolnya menerobos liang memekku. Aku makin merenggangkan lagi kakiku. Kubimbing kontolnya ke arah lubang memekku. Dan acchh…, kontolnya mulai masuk. nafasku tertahan di tenggorokan, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang dia lakukan, hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh. Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak. Dia kecup bibirku lembut sebelum mulai menggerakkan kontolnya. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. aku memeluk kedua pantatnya ikut menekan. Nikmat sekali rasanya. Badan kami masih licin. Terus dia ayun-ayunkan kontolnya kluar masuk memekku. Tokedku menekan dadanya, dinding memekku meremas kontolnya yang terus dipompanya kluar masuk. Tak lama, aku merasa tak tahan lagi. Kupeluk dia erat-erat. Aku telah sampai ke puncaknya lebih dulu. Kontolnya makin kencang menancap. Ayunan kontolnya makin lama makin cepat.
“Achh…, achh…, terus bang…, terusss…”, lenguhku. Pinggulku terus bergerak mengimbangi tusukannya. Sejurus kemudian, kami saling berpelukan erat sekali. Dia mencium bibirku.

Dia mencabut kontolnya. Dia menghadapkan tubuhku ke arah dinding. Aku
nungging. Pantatku yang masih licin oleh sabun diusap-usap. Jari tengahnya mulai memainkan memekku. Aku melenguh. Dia mainkan itilku, diusap dan diplintir, sehingga aku makin menggelinjang. “Sekarang bang…, sekarang…”, desahku. Kupegang kontolnya dan kubimbing masuk ke dalam celah memekku. Dia tusukkan pelan-pelan kontolnya. Aku condongkan badannya kedepan untuk memlintir2 pentilku dan kemudian meremas2 tokedku. Makin lama makin cepet dia memompa memekku. “Bang aku lemes deh, aku dah nyampe abang belon ngecret ya, terusin di kasur yuk bang”. Dia mengerti kondisiku. Kemudian dia berhenti memompaku dan mencabut kontolnya keluar memekku. Masih keras banget dan berlumuran lendir memekku. Tersirat kekecewaan diwajahnya. Aku jadi gak enak, dia sudah membawa aku ke surga kenikmatan tapi dia belon nyampe sama sekali. Kontolnya kugenggam sambil menggerakkan tanganku maju-mundur, dari leher batang kontolnya hingga ke pangkalnya. Palkonnya semakin lama semakin berwarna merah tua. Kuelus-elus palkonnya dengan ujung jempol. “Ooh.., nikmat, Sayang!” Wah mulai sayang2an neh. Aku meremas
biji pelernya. Dia meletakkan kedua belah telapak tangannya di atas kepalaku.

Lalu dengan tarikan yang sangat lembut, dia menarik kepalakuu agar semakin mendekat ke kontolnya. Aku mendekatkan bibirku ke bagian tengah palkonnya. Kujilat lubang kencingnya, ada sedikit lendir disana. kemudian kukulum palkonnya. Leher kontolnya kujepit dengan bibir sambil mengoles-oleskan lidahku di lubang kencingnya. Dia mendesah. “Argh.., aduuhh..!” desahnya sambil menekan bagian belakang kepalaku lebih keras. Setengah batang kontolnya telah masuk ke dalam mulutku. Aku menengadah memandangi wajahnya, tampak dia keenakan ketika kontolnya kusepongin. Aku merasakan lagi tekanan di bagian belakang kepalaku, tekanan yang membuat aku memasukkan batang kontolnya itu lebih dalam. Dia mengusap-usap rambutku. Perlahan-lahan, ditariknya kontolnya hingga palkonnya yang masih tersisa. Dan dengan perlahan-lahan pula, didorongnya kembali batang kontolnya kedalam mulutku. Diulangnya gerakan itu beberapa kali, tiba-tiba didorongnya lagi dengan keras hingga bibirku menyentuh jembutnya. Aku tersendat karena ujung batang kontolnya menyentuh kerongkonganku. Dia segera menarik kontolnya mundur kembali. kembali palkonnya kuhisap-hisap. Lalu batang kontolnya kukeluarkan dari mulut, aku mulai menjilati batangnya hingga ke pangkalnya. ujung lidahku beberapa kali menyentuh biji pelernya, sehingga dia mendengus keenakan. Ketika kurasakan jambakan lembut di kepalaku, kuhisap-hisapnya biji pelernya. lidahku melata ke arah bawah untuk mengecup dan menjilat-jilat celah sempit antara biji peler dan lubang pantatnya. “Aarrgghh..!” desahnya ketika merasakan lidahku itu menjilat-jilat semakin liar. Bahkan dia mulai merasakan bibirku mulai mengisap-isap celah di dekat lubang pantatnya. Sangat dekat dengan lubang pantatnya! Dan sesaat dia berhenti bernafas ketika merasakan ujung lidahku akhirnya menyentuh lubang pantatnya. Dia menggigil merasakan nikmat yang mengalir dari ujung lidah itu. Matanya terbeliak ketika merasakan tanganku membuka lipatan daging di antara bongkah pantatnya.

Hanya bagian putih di bola matanya yang terlihat ketika dia meresapi nikmatnya lidahku saat menyentuh lubang pantatnya. “Oorgh.., aarrgghh.. Nikmat, Sayang!” desahnya sambil menggerakkan pinggulnya menghindari jilatan di pantatnya.

Dia sudah tak kuat menahan kenikmatan yang mendera tubuhnya. Palkonnya sudah membengkak. Lalu dia mengarahkan palkonnya ke mulutku. “Aku sudah tak tahan, In” sambungnya sambil menghunjamkan batang kontolnya sedalam-dalamnya. Aku tersendat ketika palkonnya menyumbat kerongkonganku.

ketika batang kontolnya bergerak mundur, aku mengisapnya dengan keras hingga terdengar bunyi ‘slurp’. Kedua telapak tanganku mengusap-usap bagian belakang pahanya. Lalu aku kembali menengadah. Kami saling tatap ketika batang kontolnya kembali menghunjam rongga mulutku. Telapak tanganku ikut menekan bagian belakang pahanya. Kepalaku ikut maju setiap kali batang kontolnya menghunjam mulutku. Aku merinding setiap kali ujung palkonnya menyentuh kerongkonganku. “Aarrgghh.., In, aku sudah mau keluar. Telan ya sayang pejuku”. “Hmm..” sahutku sambil mengangguk. Dia semakin tegang setelah melihat anggukan itu. Sendi-sendi tungkai kakinya menjadi kaku. Nafasnya mengebu-gebu seperti seorang pelari marathon. Sebelah tangannya menggenggam kepalaku, dan yang sebelah lagi menjambak. Pinggulnya bergerak seirama dengan tarikan dan dorongan lengannya di kepalaku.

Hentakan-hentakan pinggulnya membuat aku terpaksa memejamkan mata.
Batang kontolnya sudah menggembung. Akhirnya ia meraung sambil menghunjamkan batang kontolnya sedalam-dalamnya. Berulang kali. Ditariknya, dan secepatnya dihunjamkan kembali. “Aarrgghh.., aduuh! Aarrgghh..!” raungnya sekeras-kerasnya ketika dia merasakan pejunya muncrat ‘menembak’ kerongkonganku. Sesaat ia merasa kejang. Dibiarkannya batang kontolnya terbenam. Tangannya mencengkeram kepalaku dengan keras karena tak ingin kepalaku meronta. Dia tak ingin mulutku terlepas ketika dia sedang berada pada puncak kenikmatannya. Keinginan itu ternyata menjadi kenikmatan ekstra, yaitu kenikmatan karena ‘tembakannya’ langsung masuk ke kerongkonganku. ‘Tembakan’ itu akan membuat kerongkonganku agak tersendat sehingga pejunya akan langsung tertelan. Setelah ‘tembakan’ pertama, dia masih merasakan adanya tekanan peju di saluran lubang kontolnya. Maka dengan cepat ia menarik batang kontolnya, dan menghunjamkannya kembali sambil ‘menembak’ untuk yang kedua kalinya. “Hisap sayang, aarrgghh..! Aarrgghh..!”
Ditariknya kembali batang kontolnya. Tapi sebelum kembali menghunjamkannya, dia merasakan gigitanku di leher batang kontolnya.

Dia pun berkelojotan ketika merasakan gigitanku disertai kuluman lidah. ‘Tembakan’ kecil masih terjadi beberapa kali ketika lidahktu mengoles-oles lubang kontolnya. “Ooh.., nikmatnya!” gumamnya sambil membelai-belai kedua belah pipiku. Sambil menengadah dan membuka kelopak mataku, aku terus mengulum dan menjilat-jilat. Tak ada lendir berwarna susu yang mengalir dari sudut bibirku.

Cerita Mesum Dengan Pacar Temenku Tak ada setetes pun yang menempel di daguku. Dan tak ada pula lendir yang tersisa di palkonnya. Bersih. Semua kutelan. “Yanx, nikmat banget deh, apalagi kalo ngecret dimem3k kamu ya”. “Kok abang manggil aku Yanx si, ntar Ayu cemburu lo”. “Ayu kan bukan cewekku,kita cuma ttm an, gak da haknya dia untuk cemburu, lagian aku beneran sayang lo ma kamu”. “Masak si”, aku mencibir. “Bener, aku pengen kamu jadi cewekku, bukan ttm seperti aku dan Ayu, mau gak, kamu gak da cowok kan”. Aku tersanjung mendengar gombalannya. “Serius bang?” “Seribu rius, mau ya”. Aku cuma mengangguk, “tapi abang ngomong baek2 ma Ayu ya. Abang jangan maen ma Ayu lagi, ma aku ja ya bang”. Dia terdiam sejenak, lalu menggangguk. “Laper neh, kita cari makan yuk”. Kami bebersih diri dibawah shower air hangat kembali sambil peluk cium, kemudian aku kembali ke kamarku untuk tuker pakean, dan tak lama kemudian kita sudah berada di jalan menuju ke food court yang gak jauh dari tempat kosku. Kami santap malam dengan santai, dia humoris sekali sehingga aku sampe tersedak karena terpingkal2 geli sementara makanan masi ada dalam mulutku. “Bang, napa si abang pengen aku jadi cowok abang”. “terus terang ya In, ternyata ngentotin cewek imut kaya kamu nikmat banget, mem3k kamu peret banget jadi empotannya kerasa banget”. “Memangnya ma Ayu gak nikmat ya bang”. “Nikmat juga si, tapi ma kamu lebih nikmat lagi, mau ya jadi cewekku”. “Pokoknya abang ngomong dulu baek2 ma Ayu, aku kan gak mau pertemenanku ma Ayu rusak bang”. “iya deh”, dah kenyangkan, pulang yuk”. “abang dah pengen maen lagi ya”. “Iya la, tadi kan ngecret di mulut kamu, aku pengen ngecret di mem3k kamu, boleh kan”. “Boleh banget bang”. “Kudu dikondomin gak”. “Gak usah bang, enak juga polos, nikmat banget kalo aku nyampe trus kesemprot peju anget”. “Mangnya kamu lagi gak subur”. “Justru nikmat banget kalo lagi subur bang, napsuku lebi menggebu2″. “Gak takut halim”. “Halim? hamil maksudnya”. “Ya, sengaja kuplesetin, kirain ngerti”. “Aku minum obat bang udahannya, kalo lagi subur”. “Wah asik banget tu, jadi pengen buru2 dah dikamar lagi”.
Sampe di kos, “Bang maennya dikamar aku ja ya, aku lebih nyaman dikamar sendiri”. “Gak masalah”. Kami masuk kamarku, segera dia mencium bibirku. Dia bersemangat ketika menciumi leherku Sesekali lidahnya menjulur menjilat hingga membuat aku beberapa kali mendongakkan kepalaku. Dia segera melepas bajuku dan branya sekalian. Aku merangkul lehernya, sehingga tokedku menempel ketat ke dadanya. Karena senang dan gemas, dia segera meremas bongkahan pantatku. Diremasnya berulang kali. Bahkan sambil meremas, bongkahan pantatku agak ditariknya ke atas agar dia tak perlu terlalu menunduk ketika menciumi leherku. Aku menyukai tarikan di bongkah pantatku walau hal menyebabkan aku harus berjinjit. Tak lama kemudian, karena jari-jari kakiku mulai terasa kelu, aku menggantung di lehernya agar dapat melingkarkan kedua belah kakiku di pinggangnya. Tumitku terpaksa menekan pinggulnya ketika aku merasakan ciuman-ciuman basah merayap menuju tokedku. Ciuman yang membuat aku beberapa kali melengkungkan punggung ke belakang, memberi ruang yang lebih luas kepada dia untuk menciumi tokedku. Beberapa menit kemudian, tumitku menekan lebih keras karena aku ingin mengangkat badanku lebih tinggi agar ciuman-ciuman itu segera mendarat di tokedku. Lidahnya pun mulai merayap dari lekukan bawah hingga ke pentilku yang kecil. Semakin lama lidah itu bergerak semakin cepat. Menjilati bergantian. Toked kiri dan kanan. Dan ketika merasakan air liurnya telah membasahi kedua tokedku, dia segera mengulum pentilku yang kemerahan. “Ooh..! Ooh.., abang! Aarrgghh..!” desahku ketika merasa pentilku digigit dengan lembut. Dan ketika bibirnya berpindah ke toked sebelahnya, lalumengulum dan menjentik-jentikkan ujung lidah di pentilku, aku kembali mengerang..“baang..! Aargh.., enak!!”

Tapi beberapa detik kemudian, dia melepaskan pelukannya, sisa pakeanku dilepaskan sehingga aku bugil bulat didepannya, segera aku dibaringkan di kasur, kakiku dikangkangkannya. dengan lembut diusap-usapkannya telapak tangannya ke betisku. Semenit kemudian, dibelai-belainya betisku dengan pipinya. Lalu dikecupnya. Mula-mula dia mengecup bagian bawah, tetapi semakin lama semakin naik ke arah belakang lutut. Mula-mula kecupannya kering, tetapi semakin mendekati belakang lutut, kecupannya semakin basah. Ketika bibirnya telah terselip di belakang lututku yang tertekuk itu, ia mengecup sambil mempermainkan ujung lidahnya. “Geli, bang!” Dia memindahkan kecupannya ke betis yang sebelah lagi. Dengan sabar, dia mengecup kembali. Mengulangnya berulangkali. Dan kemudian mulai menjilat ke arah bawah.

Sesekali dia mengecup dengan gemas, setengah menggigit. Aku sangat menikmati hembusan nafas yang terasa hangat di betisku. Setiap kali dia mengecup, seolah tersisa kehangatan di bekas kecupannya. Dia mulai menciumi lutut bagian dalam. Dia menatap pahaku yang terpampang di depannya. Pahaku terbuka lebar sehingga dengan mudah ia menciumi dan sesekali menjilatnya. Lalu diusapkannya wajahnya beberapa kali ke permukaan paha dalamku. Kedua belah telapak tangannya pun giat bergerak menyalurkan kehangatan. Tangan kirinya mengusap-usap paha kananku bagian luar, sedangkan telapak kanannya digunakan untuk mengusap-usap betis kiriku. Aku sangat menyukai usapan-usapan telapak tangannya. kehangatan pun mulai terasa menjalar di bagian bawah perutku ketika aku merasakan lidahnya merayap mendekati lipatan antara paha dalam dan memekku. Aku merintih ketika bibirnya menariki jembutku. Hal itu malah membuat memekku semakin basah. Akul menarik kepalanya ke arah pangkal pahaku. Kedua tanganku menahan agar kepalanya tetap berada di pangkal pahaku. Dan ketika aku merasakan kehangatan lidah menyusup ke dalam memekku, aku merintih..“Ooh, ooh.., enak bang! Aarrgghh..!” Tarikan nafasku pun mulai tak teratur ketika lidahnya menjilati dinding dan bibir dalam memekku. Aku mendorong pinggulku agar lidahnya masuk semakin dalam. Sebuah sensasi yang membuat memekku semakin basah berlendir. Apalagi ketika merasakandia mengisap lendir yang terselip di bibir dalam memekku, aku merintih berulang kali..“Argh..! Argh..! bang, Oh nikmatnya, sstt, sstt.., aarrgghh..!” Kemudian dia menekan hidungnya ke celah sempit di antara bibir memekku.

Ditekannya sedalam-dalamnya. Aku terkejut merasakan hidungnya itu tiba-tiba menusuk lubang memekku. Aku menggelinjangkan pinggulku. Menggelinjang dalam kenikmatan. Geli dan nikmat tiba-tiba terasa menusuk hingga ke jantungku. Aku merintih-rintih berkepanjangan akibat dengusan nafasnya di dalam lubang memekku. “Aarrgghh..! bang..! Aarrgghh.., aarrgghh..!” rintihanku semakin keras. “Bang! Aarrgghh..! Aku mau nyampe!” Aku tak berusaha menghindari hidungnya, bahkan aku memutar pinggulku sambil menekan bagian belakang kepalanya. Hal itu tak berlangsung lama. Aku hanya mampu memutar-mutar pinggulnya beberapa kali! Tiba-tiba saja aku merasakan adanya dorongan lendir orgasme yang tak mampu kutahan. Dorongan itu terasa sangat kuat. Jauh lebih kuat daripada dorongan yang biasanya aku rasakan ketika mendekati puncak orgasmeku. “Bang.., aku mau nyampe! Aarrgghh..” mendengar rintihanku, dia semakin meremas dan menarik kedua bongkah pantatku agar hidungnya semakin tenggelam ke dalam liang memekku.

Remasannya di bongkah pantatku itu sangat kuat, membuat aku hanya dapat merintih dan meronta-ronta. Dan tak lama kemudian, “Aarrgghh.., aku nyampe!” Lalu dia mulai menjilati memekku yang masih berlepotan lendir itu. Aku menggeliat ketika merasakan kembali lidahnya yang menjilati bibir luar memekku. Aku mengusap-usap rambutnya yang masih rajin menjilati memekku.

Aku mendesah ketika lidahnya mulai mencari-cari sisa lendir di balik sekumpulan urat saraf yang itilku. Aku menggeliat. Dan menggeliat lagi ketika merasakan itilku dijentik-jentik dengan ujung lidahnya. Dia masih menjilat-jilat. Sesekali mengulum bibir luar memekku. “Bang, nikmatnya!” desahku sambil menatapnya.

“Sekarang dimasukin ya In!” Aku diem saja, menunggu. Dia menjatuhkan dadanya di antara kedua belah pahaku. Lalu dengan gemas, diciumnya pusarku. “Bang, geli!” Dia tersenyum sambil mengangkat kepalanya. Tapi tak lama kemudian diulang-ulangnya mencium hingga membuat aku kembali menggelinjang beberapa kali. Dengan menggunakan kedua siku
dan lututnya, dia merangkak hingga wajahnya terbenam di antara kedua tokedku.

Dikecupnya lekukan tokedku. Lidahnya sedikit menjulur ketika mengecup. Kecupan basah. Tak lama kemudian, lidahnya melata menjilat tokedku sebelah kanan. Diulangnya beberapa kali hingga tokedku mulai basah tersapu air liurnya.

Ia berhenti sejenak untuk menatap keindahan pentilku. Lalu tangannya kirinya bergerak mengusap bagian bawah buah tokedku, kemudian bergerak ke arah atas sambil meremas dengan lembut. Remasannya membuat pentilku terlihat semakin tinggi. Menggemaskan. Dan dengan cepat dikecupnya pentilku yang masih kecil itu. Dikulumnya sambil mengusap-usapkan tangan kanannya di punggungku. “Kamu cantik sekali, In” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tersenyum, senang mendengar pujian itu. Kurangkulnya lehernya dengan tangan kiriku, kemudian kucium bibirnya dengan mesra. Kuhisap lidahnya yang menyusup ke bibirku. Kuhisap sambil mengait-ngaitkan ujung lidahku. Tak lama kemudian, tangan kananku bergerak ke arah pangkal pahanya. Setelah mengusap-usap beberapa kali, kugenggam batang kontolnya. Lalu kuarahkan palkonnya ke celah di antara bibir memekku yang mulai berlendir.

Dia menarik nafas panjang merasakan kelembutan dan kehangatan di ujung batang kontolnya. lendir dari celah bibir memekku mengolesi ujung palkonnya. Batang kontolnya menjadi semakin keras. Urat-urat berwarna hijau di kulit batang kontolnya semakin membengkak. Dia sedikit menekan pinggulnya agar palkonnya terselip di bibir memekku. Dia menatap wajahku ketika merasakan pinggulku yang ditindihnya menggeliat. Dengan tambahan tekanan yang lebih keras, palkonnya akhirnya terselip. Dia menahan nafas ketika merasakan hangat dan sempitnya bibir memekku menjepit palkonnya. Lalu ia mulai menciumi leherku Dadanya direndahkan hingga menekan kedua tokedku. Dia sengaja melakukan hal itu karena ingin merasakan kekenyalan tokedku ketika aku menggeliat. Dia mendorong batang kontolnya lebih dalam. “Ohh.., bang.” Dia menciumi telingaku. “Belit pinggangku dengan kakimu, Sayang,” bisiknya di sela-sela ciumannya. Tangan kirinya meremas tokedku, sedangkan tangan kanannya
mengelus-elus paha luarku yang baru membelit pinggangnya. Lalu ia mendorong batang kontolnya lebih dalam. Sesak! Perlahan-lahan ia menarik sedikit batang kontolnya, kemudian mendorongnya. Hal itu dilakukannya beberapa kali hingga dia merasakan cairan lendir yang semakin banyak mengolesi palkonnya.

Sambil menghembuskan nafas berat, didorongnya batang kontolnya lebih dalam, kemudian ditariknya batang kontolnya hingga hanya ujung palkonnya yang yang terselip di bibir luar memekku. Lalu didorongnya kembali perlahan-lahan.

Diulangnya beberapa kali. Lalu diciumnya bibirku dengan lahap. pentilku diremasnya dengan jempol dan jari telunjuknya. Dan ketika merasakan aku mendorong pinggulku, dengan cepat didorongnya pula batang kontolnya.
“Hmm.., hhmm..!” gumamktu sambil mengisap lidahnya sekeras-kerasnya.
Aku hanya dapat bergumam ketika merasakan batang kontolnya menghunjam ke dalam lubang memekku. Aku menggeliat-geliat, tapi semakin menggeliat, batang kontolnya masuk semakin dalam. Sesaat,dia membelai-belai rambut di dahiku. Lalu mengecup keningku dengan mesra. Tak lama kemudian, bibirku dikecupnya dengan lembut. Dikulumnya dengan penuh perasaan. Dia baru menarik batang kontolnya perlahan-lahan setelah merasakan lidahku menyusup ke dalam mulutnya.
Dia kembali membenamkan batang kontolnya perlahan-lahan. Kali ini ia hanya mendengar aku mendesis beberapa kali sambil merangkul lehernya erat-erat. Dia pun merasakan dua buah kakiku yang semakin erat membelit pinggangnya. Ia masih tetap mendengar aku mendesis ketika dia menarik batang kontolnya.

Setelah menarik nafas panjang, dia menghentakkan pinggulnya sedalam-dalamnya hingga pangkal pahanya bersentuhan dengan pangkal pahaku. Dia mendesah beberapa kali ketika merasakan seluruh batang kontolnya terbenam ke dalam memekku. Bahkan dia merasakan ujung kontolnya menyentuh mulut rahimku. Sejenak dia diam tak bergerak. Dia sengaja membiarkan batang kontolnyanya menikmati sempitnya lubang memekku. Dia terpejam merasakan remasan lembut di batang kontolnya ketika memekku berdenyut.

“Aarrgghh.., ooh, ohh..,” rintihku ketika seluruh batang kontolnya telah terbenam ke dalam lubang memekku. aku merasakan nikmat di sekujur tubuhnya. Rasa yang membuat bulu-bulu roma di sekujur tubuhku meremang, yang membuat aku terpaksa melengkungkan punggungnya. Kuku-kuku jari tanganku menancap di punggungnya ketika aku merasakan biji pelernya memukul lubang pantatku. Aku semakin melengkungkan punggungku menjauhi kasur ketika dia menarik batang kontolnya. Aku tak mampu bernafas ketika merasakan nikmatnya saat bibir dalam memekku tertarik bersama batang kontolnya. Rasa nikmat yang menjalar dari memekku, membuat punggungnya terhempas ke atas kasur ketika dia
kembali menghunjamkan batang kontolnya. aku menggigit bibirku meresapi
kenikmatan yang mengalir dari itilku. Itilku yang tergesek ketika dia menghunjamkan batang kontolnya. Dia mendesah setiap kali mendorong batang kontolnya. Seumur hidupnya, Ia tak pernah merasakan ada mem3k yang menjepit batang kontolnya sekeras itu. Memekku yang sempit yang membuat telapak tangannya harus menekan kasur sekeras-kerasnya ketika ia menarik batang kontolnya. Akhirnya dia tertelungkup di dadaku. Tangannya menyusup ke balik punggungku dan menggenggam kedua bahuku. Dia terpaksa hanya mengandalkan lututnya untuk menekan kasur agar ia tetap dapat mengangkat dan mendorong pinggulnya. Dia hampir tak mampu membendung pejunya lebih lama lagi. “Aarrgghh.., yang, aku dah mo ngecret, didalem ya”..!” desahnya.

Nafasnya mendengus-dengus. Kelopak matanya terbeliak-beliak. Terdengar
bunyi “plak” setiap kali ia menghunjamkan batang kontolnya karena pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku. Bunyi itu semakin keras terdengar setiap kali aku mengangkat pinggulk untuk menyongsong batang kontolnya yang menghunjam. “Aarrgghh.., In, aaku.. Aaku..” Dia tak mampu lagi mengendalikan pejunya. Dia masih mencoba bertahan. Tapi semakin lama memekku yang menelan kontolnya terasa meremas semakin kuat. Remasan yang berdenyut-denyut, seolah ingin menghisap peju yang tertahan di batang kontolnya.

“Aarrgghh.., aarrgghh.., aku ngecret..,” raungnya ketika merasakan pejunya menerobos lubang saluran kontolnya. Dia menghunjamkan pinggulnya sekeras-kerasnya agar ujung palkonnya tertanam sedalam-dalamnya ketika pejunya menerobos ke luar dari kantung biji pelernya. Dia mencengkeram kedua bahuku dengan erat saat dia pun merasakan gigitan manja di bahu kanannya..“Bang, aarrgghh.., aarrgghh.., aku nyampe jugaa..!” rintihku ketika merasakan peju yang sangat panas ‘menembak’ mulut rahimku. “Nikmat sekali dientot ma abang, jauh lebi nikmat ketimbang dientot lelaki laen”. “Makanya jadi cewekku ya, ntar saben malem deh kamu aku entotin”. Aku tersenyum lemes, tak lama kemudian kamu terlelap kelelahan dan juga penuh rasa nikmat.